Tiga Kebiasaan Sederhana untuk Selamatkan Bumi

Akhir-akhir ini gerakan go-green di Indonesia makin gencar dilakukan. Terkhusus untuk kalian yang tinggal di Nusa Tenggara Barat (NTB) tentu sudah tidak asing dengan salah satu program gubernur yang makin gencar digalakkan, yakni “Zero Waste”. Pelan-pelan mengurangi sampah plastik memang terasa berat, tapi kalau konsisten, kita bisa jadi pahlawan bumi. Anak muda harus membangun gaya hidup baru yang ramah bumi. Nggak mau kan besok anak-anak atau cucu kita harus beli oksigen untuk menyambung hidup? Percaya, deh, hidup cuek dan konsumtif di zaman sekarang ini sudah ketinggalan zaman. Tapi, kan, kita nggak bisa drastis berubah? Gimana, dong? Tenang, berikut beberapa kebiasaan sederhana yang bisa bikin kalian step by step masuk ke dalam barisan pahlawan penyelamat bumi.

1. Hang Out Bareng Tote Bag

Melihat perkembangan belanja masyarakat, biasanya kita suka happy atau bangga gitu pulang belanja dari tempat tertentu; nenteng kresek belanjaan yang ada cap merk-nya. Jujur, deh. Bener, nggak? Okay, guys, believe me, itu nggak akan memengaruhi penilaian jujur dari orang lain terhadap kita. Be a smart and kind person itu lebih menyenangkan ketimbang dipandang lux atau mewah. Loh, hubungannya dengan menyelamatkan bumi, apaan?

Okay, plastik merk yang dipakai oleh distro atau tempat kita belanja barang itu kan sama aja dengan tas plastik lainnya. Mereka nggak akan bisa kembali melebur bersama alam. Semakin sering orang belanja ke sana, makin banyak tas plastik diproduksi. Kalo sudah banyak dan numpuk, mau dikemanain? Dikoleksi jadi museum plastik ber-merk di rumah? Sadar, deh, kalian juga nggak memanfaatkan plastik itu secara maksimal kan setelah dipakai? So, gimana baiknya? Coba sekarang kalian ganti mindset. Setiap belanja, kita sedia tote bag dari rumah. Zaman sekarang banyak, loh, tote bag lucu-lucu yang dijual. Kalian bisa beli satu, dan pakai setiap kalian pergi belanja. Coba lakukan itu selama tiga bulan, secara konsisten dan terus menterus; lihat berapa tas plastik yang bisa kalian hemat. Selain untuk belanja, tote bag juga asyik diajak nongkrong bareng teman-teman. Model tote bag juga bisa kalian sesuaikan sendiri dengan kepribadian dan selera kalian. Seru, kan? Overall, kalian bisa tetap tampil trendi tanpa harus ngerusak bumi secara perlahan.

2. Ajak Abang Cilok Pakai Wadah dari Rumah

Saat jalan-jalan ke taman kota, kita biasanya hanya modal duit, ya. Oh, nggak, dong. Ada yang sudah mulai bawa botol minum dari rumah—ini biasanya para PNS yang “tertular” peraturan di kantor. Gerakan positif ini perlu tetap digalakkan, nggak cuma di beberapa orang aja, dan kayaknya nggak keren, ya, kalau kita minumnya bawa dari rumah, tapi makannya masih pakai plastik; beli cilok, misalnya? Lha, gimana, dong? Masa iya kita mau bawa mangkuk dari rumah? Kan plastik lebih praktis! Nggak modern banget, sih. Modern? Well, istilah “modern” di sini rasanya sudah bergeser. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), modern adalah, “Sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman.” Zaman sekarang kita dituntut untuk kembali meremajakan bumi yang sedang terancam! Tapi, kan aneh kalau bawa mangkuk ke mana-mana. Jangan kudet, teman-teman, sekarang sudah banyak bertebaran berbagai wadah plastik yang aman dan bertahan lama. Kita nggak perlu lagi bawa wadah kaca yang rawan pecah. Di negara maju pun hal ini sering dilakukan. Di Jepang, masyarakat banyak membawa bento (bekal) dengan wadah sendiri. Kebiasaan kita ini jangan dianggap remeh, ya. Seperti kata Greta Thunberg, masyarakat nggak bisa bergerak banyak kecuali sistem diubah. Maka, salah satu cara kita mengubah sistem adalah dengan menolak penggunaan plastik dan mulai membawa wadah sendiri. Kalau kita semua membawa wadah sendiri, bukan nggak mungkin kan di masa depan si abang ciloknya bakal stop pakai plastik? Yuk, generasi muda mulai perubahan ini! sistem perdagangan di kota akan sangat mungkin berubah dengan sikap kritis kita dalam menggunakan wadah makanan.

3. Cari Gebetan di Tempat “Ramah Lingkungan”

Percaya atau nggak, generasi muda mulai banyak yang bergerak bukan hanya dari gaya hidup, tapi juga penguatan isu-isu lingkungan. Salah satu cara jadi mansusia yang survive di dunia yang makin gila ini adalah dengan terus belajar. Hah? Maksudnya apaan, sih? Nggak cukup ya kita belajar di sekolah bertahun-tahun? Well, guys, belajar nggak musti di sekolah, kok. Kita boleh stop sekolah, tapi jangan stop belajar. Ah, kutu buku, ah! Oh, hold on.. anak muda sekarang, kalau nggak berwawasan luas, you will be a barbie. Nggak mau dong, ya, penampilan doang yang ketjeh tapi otak dan sikap nggak cerdas. Sekarang ini mulai menjamur tempat tongkrongan yang nggak cuma nawarin menu enak dan live music keren, tapi juga kegiatan diskusi rutin. Salah satunya ada, tuh, kedai kopi di wilayah Rembiga, Kota Mataram. Di sana selalu ada forum diskusi setiap minggunya. Mereka membahas isu-isu kekinian, salah satunya tentang lingkungan. Biasanya tempat nongkrong kayak gini menerapkan sistem tempat ramah lingkungan. Nah, kalian bisa deh sekalian observasi, gimana sih tempat ramah lingkungan itu. Nanti bisa diterapkan di rumah. Ngebosenin? Nggak, dong. Percayalah, nggak ada ruginya jadi orang peduli. Saat ini bumi butuh banget generasi muda yang peduli lingkungan. Kita bisa hanya sekedar nongkrong sambil dengerin orang-orang di forum membahas isu. Lama-lama, kita pasti gatel tuh buat ikut berkomentar. Jika iya, selamat! Kamu sudah masuk ke dunia generasi muda cerdas. Biar nggak cuma berani komentar di media sosial aja, yuk, tunjukin kalau kamu keren dengan ikut nimbrung di forum-forum diskusi. Siapa tahu ketemu gebetan cerdas.

Cintamu Sejati atau hanya Fantasi? Cari Tahu dari 4 Kriteria ini!

4 Tahapan Kehidupan bagi Carl G. Jung