Bagaimana Membangun Ketahanan Jiwa? (2)

Melanjutan artikel sebelumnya—tentang 9 cara membangun ketahanan jiwa—yang empat diantaranya telah dijabarkan, selanjutnya Davis meneruskannya dengan menjabarkan lima sisanya. Cara/tahapan ini dipisah secara struktural agar proses yang dijalani tidak terburu-buru dan melelahkan. Merubah diri memerlukan proses tidak sebentar. Maka melangkah perlahan tapi pasti adalah metode yang tepat dalam hal ini.

#1 Temukan “Silver Linings”

Sebuah idiom berbahasa Inggris, silver linings, sama maknanya dengan “memetik hikmah” dalam bahasa Indonesia. Sehingga, dari sini kita bisa menilai bahwa memetik hikmah dari setiap masalah adalah tindakan universal. Setiap orang di dunia melakukannya. Jadi, ini bukan hal yang remeh. Memetik hikmah dari setiap keadaan negatif membantu Anda menghasilkan emosi positif—bahkan ketika Anda dalam keadaan yang sangat sulit. Itu sebabnya mengapa setelah menjalani keempat proses sebelumnya, Anda baiknya melanjutkan ke tahap ini: memetik hikmah dari masalah yang Anda lalui. Dengan mengumpulkan emosi positif, Anda akan menangkal emosi negatif, mengurangi stress, dan mempercepat pemulihan dari peristiwa yang membuat stress.

Tapi memetik hikmah tidak semudah itu! Benar, tidak semudah mengatakannya. Tapi itu bisa dilatih menjadi kebiasaan sehingga Anda akan peka untuk mencari titik celah hikmah di setiap masalah. Bayangkan, Anda menjatuhkan sandwich ke tanah, dan Anda tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan saat makan siang. Anda mungkin termenung dan mengingatkan diri sendiri betapa beruntungnya memiliki sandwich di saat begitu banyak orang kelaparan. Rasa syukur Anda muncul dan itu sebuah emosi positif yang akan menetap di jiwa sampai istirahat siang selesai. Atau, Anda mungkin bisa menganggap peristiwa ini sebagai jalan Tuhan dalam memberikan Anda kesempatan untuk pergi makan siang bersama rekan kerja—alih-alih makan sandwich di meja kerja sendirian. Anda jadi bisa melakukan pendekatan emosional dengan mereka dan akhirnya akan meningkatkan kinerja tim di perusahaan.

#2 Berkaca dari Kehidupan Orang Lain melalui Film

Jika Anda kesulitan memetik hikmah dalam masalah, mungkin akan lebih mudah jika Anda melihat kehidupan orang lain. Biasanya kita lebih bisa menilai kehidupan orang lain daripada kehidupan kita sendiri. Maka, tidak masalah. Namun, apakah ini berarti kita harus menguntit salah satu tetangga? Apakah kita akan bertindak sebagai paparazzi? Tentu saja tidak!

Kita bisa menonton film. Dalam film, terdapat alur cerita yang diatur sama persis dengan kehidupan nyata di masyarakat. Maka Anda hanya perlu memilih film apa yang akan Anda tonton. Sebelum menonton film atau adegan sedih atau emosional, baca instruksi ini: Saat menonton setiap adegan dalam film, pikirkan apa yang bisa dipelajari dari pengalaman, atau sikap para karakter di dalam film. Dengan mempertimbangkan saran-saran ini, pikirkan saran apa yang akan Anda berikan kepada para karakter agar merasa lebih baik.

 Sekarang tanyakan pada diri Anda, bagaimana Anda bisa menerapkan saran ini untuk hidup Anda sendiri?

#3 Menemukan Manfaat di Setiap Langkah

Setelah melalui tahap keenam, Anda idealnya sudah mulai bisa berdamai dengan diri sendiri; mendatangkan emosi positif dan menenangkan emosi negatif untuk tetap diam di tempatnya. Untuk merawat ini semua, Anda perlu menemukan manfaat di setiap langkah selanjutnya yang Anda lalui. Jangan sampai Anda terjebak kembali di situasi yang telah menyebabkan Anda tertimpa masalah. Kalaupun Anda tidak bisa menghindari situasi tersebut—misalnya di tempat kerja, atau di rumah sendiri—maka penting bagi Anda untuk memdalami pola penyembuhan diri yang sudah dipelajari di atas.

Anda dapat melatih diri dari pengalaman yang lebih jika Anda mau mencoba. Misalnya, (ini pengalaman Davis bersama suaminya):

Beberapa tahun yang lalu, transmisi mobil saya meledak total. Saya segera merasa bersyukur bahwa saya tidak mengemudi di jalan tol ketika itu terjadi, terutama karena saya telah melakukan perjalanan sekitar 10 jam per-minggu. Saya sangat senang bahwa mobil saya “bertahan” di gigi ke-3, jadi saya tidak perlu menariknya. Dan suami saya berada di mobil bersama saya, jadi saya senang bisa dibantu menggeret mobil ke bengkel hari itu juga.

Jika saya mau, saya bisa fokus pada hal-hal negatif tentang situasi ini—biaya perbaikannya sekitar $2.000, dan durasi perbaikannya tidak sebentar, saya sangat membutuhkan mobil itu untuk mulai bekerja, dan keuangan sedang tidak stabil. Tetapi daripada berfokus pada aspek-aspek ini, saya telah melatih otak saya untuk fokus pada hal-hal positif. Sebagai hasilnya, saya melewati situasi ini dengan tenang.

 Sekarang giliran Anda untuk mencoba. Tidak apa-apa jika ini sulit pada awalnya. Sama seperti keterampilan lain, dibutuhkan latihan. Mulailah dengan menghabiskan beberapa menit untuk memikirkan manfaat dari pengalaman negatif. Cobalah untuk benar-benar mencari banyak manfaat yang dapat Anda pikirkan.

#4 “Running to the Dog”

Seorang wanita yang bijak pernah mengungkapkan sebuah pribahasa kepada Davis, bahwa, ketika sesuatu membuat Anda takut, “Running to the dog!”—berlarilah ke arah anjing! Jangan malah berlari menjauhinya. Hadapi masalahmu! 

Dalam hidup, banyak hal dapat membuat Anda merasa tidak nyaman. Misalnya, jika Anda khawatir tentang keuangan Anda. Atau jika Anda mengalami hari yang buruk di tempat kerja, Anda mungkin ingin minum alkohol untuk melupakan semuanya. Tetapi penghindaran emosional semacam ini bisa berbahaya karena emosi tidak pernah terselesaikan.

 Sekali lagi, ini terdengar klasik dan sering dibicarakan, tapi kenyataannya tidak banyak yang mampu menyelesaikannya dengan baik. Jika demikian, apa yang salah? Metode Anda dalam menghadapi masalah. Ungkapan ini adalah garis besar dari beberapa poin di atas. Oleh karenanya, jika Anda menjalani poin-poin sebelumnya, maka Anda telah berlari ke arah anjing!

#5 Manfaatkan Emosi Negatif untuk Maju

Davis telah menghabiskan banyak waktu membantu Anda belajar cara meningkatkan emosi positif dan mengurangi emosi negatif. Tetapi penting untuk diingat bahwa emosi negatif sepenuhnya normal dan sehat. Selain itu, emosi negatif juga memiliki manfaat.

Emosi negatif seperti kesedihan dan kesedihan membantu kita berkomunikasi dengan orang lain; bahwa kita membutuhkan dukungan dan kebaikan mereka. Emosi negatif seperti kemarahan dapat membantu memotivasi kita untuk mengambil tindakan, membuat perubahan dalam hidup kita, dan bahkan mungkin mengubah dunia.

Pada dasarnya, emosi dirancang untuk mengarahkan perilaku kita dengan cara yang penting. Dengan santai menyingkirkan emosi negatif tanpa merenungkan dari mana mereka berasal dapat membuat kita mandek dan tidak dapat bergerak maju dengan cara yang kita inginkan.

Jadi ketika hidup melempar Anda ke dalam masalah, dan Anda merasa tidak enak, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah emosi negatif ini mencoba mengajari saya sesuatu?”

Akankah mendorong emosi negatif meninggalkan apa pun yang menyebabkan emosi negatif ini tetap utuh? Haruskah sesuatu dilakukan untuk menghentikan emosi negatif ini agar tidak muncul lagi di masa depan? Jika demikian, maka jangan dihindari—gunakan itu untuk memicu perubahan dalam hidup Anda atau di dunia. Perhatikan apakah emosi negatif Anda berusaha mengarahkan Anda ke arah yang positif. Kemudian putuskan sendiri: Apakah Anda akan mengikuti atau memilih langkah lain?

 Jika Anda memerlukan bantuan untuk memahami emosi negatif Anda, Anda bisa meluangkan waktu sendirian untuk merenung atau berbicara dengan teman dekat atau bahkan terapis.

Bagaimana Membangun Ketahanan Jiwa? (1)

6 Keterampilan Emosional yang Anda Butuhkan Untuk Hidup Bahagia